Bergabunglah bersama Kami.

Bergabung bersama GO-JEK sekarang dan rasakan manfaat bagi Anda dan sekitar.

Driver

Bergabunglah menjadi driver GO-JEK dan dapatkan jam kerja fleksibel dan pendapatan yang dapat Anda atur sendiri.

Bisnis

Daftarkan bisnis Anda di GO-JEK dan kenalkan bisnis Anda kepada jutaan pengguna kami.

Talent

Bergabunglah menjadi Mitra GO-JEK dan jadikan kesempatan ini untuk meningkatkan kemampuan dan pencapaian Anda.

Hidup Tanpa Empati - Alexander Thian, Blogger

Hidup Tanpa Empati - Alexander Thian, Blogger

Di suatu siang di sebuah pekantoran yang ramai oleh celotehan manusia-manusia kelaparan, seorang perempuan beralis paripurna sedang cemberut sambil mengetuk-ngetuk layar handphonenya. Berkali-kali, dia menggumam sebal. Dia meletakkan hapenya, lalu mengangkatnya dan melirik jam yang tertera di situ, lalu menggumam sebal lagi.

“Ahelah, beliin makan siang aja setengah jam lebih. Gak tau apa gue lagi laper…”

Di sebuah gerai makanan terkenal, seorang bapak berjaket hijau sedang mengantre. Wajahnya terlihat tak sabaran. Di depannya, masih ada sekitar delapan orang yang memesan makanan. Akhirnya tiba gilirannya. Bapak berjaket hijau ini memesan, dan membayar. Baru saja memasang wajah lega beberapa saat, ada notifikasi masuk. Pesanan makanannya dibatalkan. Wajah Bapak Berjaket Hijau langsung pias. Pesanan senilai ratusan ribu yang di tangannya terasa semakin berat.

Di kantornya, si Cewek Cantik Beralis Paripurna memaki ke layar handphone, “MENDINGAN GUE KE MAL SEKALIAN! Hih!”

Padahal jika ia bersabar sedikit, pesanannya akan tiba dalam 15 menit atau kurang. Padahal jika ia merenung sebentar, niscaya ia akan sadar, kang GoJek harus mengantre di jam makan siang yang ramai.

Di depan gerai makanan terkenal, kang GoJek masih menatap bungkusan makan siang mahal yang ia bayar pakai uangnya sendiri. Kang GoJek menggumam, “yah, sekali-kali makan siang mahal, deh…” Ia berdoa dalam hati, semoga banyak orderan masuk dan istrinya tak marah mengetahui ia sudah menghabiskan uang ratusan ribu untuk menomboki makanan pesanan.

Di tempat lain, ada seorang cewek yang sedang kelaparan dan memutuskan makan di sebuah resto bakmi. Di dekat meja kasir, ada dua kang gojek yang sedang menunggu pesanan. Cewek ini langsung berbisik-bisik ke pacarnya,
“Eh kalau aku beliin mie buat kang gojeknya gimana?”
Pacarnya menatapnya heran, “Yawda sana beliin. Kok nanya gimana?”
“Tapi aku malu ngasih tau dia, beb. Kalau dia tersinggung gimana? Kalau dia marah gimana? Kalau dia ngomel judes ke aku gimana? Kalau dia…”
“Hey, Beb. Kamu itu, ndak masuk akal banget kalo ngomong. Ya kali kamu mau berbuat baik ke kang GoJek itu malah kamu yang dicacimaki? Kan tinggal bilang, Bapak, ini ada mie dari saya. Semoga bapak suka. Udah. Gitu doang. Coba, kenapa dia harus marah?”
“Tapi kan…”
“Terserah kamu, ah. Berbuat baik itu ndak perlu takut, Beb. Kalau mau maling, tuh, baru boleh takut dan jiper.”
Terus pacarnya rolling eyes, sebal karena mau ngasih aja pake acara labil.

Setelah berperang batin sebentar, si cewek berponi tanpa spasi akhirnya memesan makanan juga buat kang gojeknya. Awalnya mau pesan buat dua kang gojek di situ, tapi beliau keburu pergi karena pesanan dia udah nyampe. Cewek Berponi Tanpa Spasi menyesal kelamaan perang batin karena malu ngomong langsung.

Alasan cewek itu jajanin kang Gojek sederhana: si kang gojek menunggu pesanan sambil ngeliatin orang-orang yang makan, dan dia terlihat capek sekali, dan cewek ini juga mikir, beliin dia sebungkus bakmie tak akan membuatnya bangkrut.

Cewek ini makan sambil mengawasi si kang gojek dan berbisik-bisik ke mbak yang melayani pesanannya, “mbak, jangan lupa nanti yang dibungkus kasih ke kang gojek itu.” Mbak di resto bakmie tersenyum dan mengiyakan. Eh, pesanan belum datang, si kang gojek udah berdiri hendak membayar pesanannya. Paniklah cewek itu.

Pacarnya langsung tanggap dan bilang, “sana kamu samperin! Ntar dia keburu pergi!” Cewep Berponi Tanpa Spasi buru-buru bangkit dan nyamperin kang gojek malu-malu. (Dalam hatinya, ia bertanya-tanya: kenapa sih mesti malu? Namun, ia tak punya jawaban)

Si cewek ini dengan suara pelan mengobrol dengan Kang Gojek, mengutarakan maksudnya, memohonnya untuk menunggu sebentar. Wajah Kang GoJek langsung cerah. Dengan senyum lebar dan mata berbinar, ia mengucapkan terima kasih berulang kali ke Cewek Berponi Tanpa Spasi. Bahkan dia mendoakan Cewek Berponi Tanpa Spasi supaya dapet rezeki berlimpah dan selalu menjadi orang baik. Cewek ini terharu luar biasa.

Dari dua cerita di atas, kalian yang mana? Cewek Beralis Paripurna, atau Cewek Berponi Tanpa Spasi? Apakah kita termasuk yang nggak sabar menunggu pesanan tiba, atau termasuk yang berempati dan ingin berbagi karena kita sadar, GoJek sudah memudahkan banyak aspek dalam hidup? Bahwa driver GoJek adalah sesama yang membantu kita mencapai tujuan lebih cepat, membelikan makanan tanpa kita perlu antre, mengantarkan dokumen tanpa kita perlu bergerak? Katanya sih, cukup satu tindakan untuk membuat orang mengingat kita. Masalahnya, bagaimana kita ingin diingat? Bertindak seenaknya dan jahat, atau berempati ke sesama?

Gue yakin sih, berbagi rezeki nggak akan membuat kita semua kekurangan. Kalau lo pelit dan medit, hidup juga akan pelit, dan medit. Sebaliknya, semakin ikhlas berbagi, semakin dimudahkan dalam rezeki. Itu yang gue percaya.

Sumber: http://amrazing.com/hidup-tanp...

ARTIKEL TERKAIT